Jumat, 05 Oktober 2012

Latar Belakang Pengajuan Bantuan Biaya Penyelenggaraan



Dilandasi rasa keprihatinan yang mendalam atas situasi bangsa belakangan ini yang menunjukkan kemunduran moral, kemerosotan akhlak, dan degradasi atau penurunan nilai-nilai budi pekerti, maka kami memberanikan diri mengajukan proposal ke Depdikbud, khususnya ke Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P2TK) Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang juga memiliki program serupa. Alhamdulillah, proposal kami disetujui dan mendapat block grant (bantuan langsung).
            Keprihatinan kami itu khususnya tetuju pada generasi muda yang nota bene adalah yang akan memimpin bangsa ini di masa depan. Sejak era reformasi yang berhasil menggulingkan orde baru, tampak kemerosotan akhlak terus ditunjukkan oleh kaum generasi muda. Awalnya, mungkin karena adanya euphoria atas keberhasilan menumbangkan orde baru yang dinilai sangat arogan dan berkuasa penuh di segala sendi kehidupan bangsa. Seperti merasa sudah terbebas dari belenggu ‘penjajah’, masyarakat bertindak seakan tidak ada lagi hukum dan nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi.
            Beberapa perilaku ‘buruk’ yang ditunjukkan generasi muda itu antara lain:
1.      Berbicara secara lantang dan dengan jari yang dituding-tudingkan kepada orang yang diajak bicara, padahal orang yang diajak bicara itu adalah pejabat/ pemimpin, dan dengan usia yang jauh lebih senior dari mereka;
2.      Tidak mengindahkan rambu-rambu, marka-marka, atau aturan-aturan yang diberlakukan di jalan raya. Mereka memberhentikan kendaraan seenaknya, saling kebut, saling salib, dan sebagainya;
3.      Mempertontonkan tindakan anarkis (tidak menggunakan jalur hukum) kepada orang atau bangunan yang ia atau mereka tidak sukai, seperti melakukan pemukulan bahkan hingga pembunuhan, atau merusak fasilitas umum, seperti sekolah, taman, pagar, dan sebagainya;
4.      Memperlihatkan toleransi yang negatif  kepada teman atau kelompok, sehingga memicu perkelahian masal, tawuran, membela membabi-buta, bentrokan kepada kelompok lain, termasuk kepada aparat penegak hukum, dan antar-kampung;
5.      Mudah dipengaruhi hal-hal negatif, seperti mengonsumsi barang-barang terlarang, seperti minuman keras, narkoba, atau menonton film-film atau gambar-gambar porno, berjudi, dan sebagainya;
6.      Tidak lagi mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran yang hakiki, akibatnya orang yang jujur bisa diusir dari kampungnya oleh orang-orang yang merasa dirugikan atas kejujuran orang itu, seperti kasus diusirnya keluarga murid yang pandai karena si murid itu tidak memberi contekan kepada rekan-rekannya pada saat ujian nasional;
7.      Berlomba-lomba mencari kekayaan dengan jalan haram. Karena ‘iming-iming’ kemewahan kehidupan ini, maka banyak pejabat yang berani menutup mata hatinya untuk berlaku korup karena ia dan keluarganya ingin hidup dengan mewah (berlebih-lebihan);
8.      Berperilaku jorok, baik terhadap orang lain maupun lingkungannya. Dapat kita saksikan dalam keseharian kita, di mana banyak sampah berserakan di mana-mana, omongan kotor (sumpah-serapah) mudah terlontar;
9.      Dengan kemajuan teknologi namun tidak diimbangi penguatan daya filter diri, maka banyak mereka (kaum muda) yang terjebak dalam kehidupan seks bebas, melihat atau bahkan membuat video atau foto porno, melakukan pemerkosaan, dan sebagainya.

Sudah barang tentu, jika hal-hal buruk seperti di atas terus dibiarkan, maka akan jadi apa bangsa ini ke depan ?, tentu akan menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang mudah diiming-imingi kemewahan, yang pada akhirnya akan menjadi bangsa yang terjajah kembali. Karenanya, harus ada upaya dari orang-orang yang memiliki kepedulian.
Untuk mengurai masalah dan membenahi bangsa ini, tidak dapat dilakukan secara serial, melainkan harus secara gradual dari berbagai sendi kehidupan. Seburuk apapun orang, seburuk apapun masyarakat, sebetulnya ia atau mereka memiliki hati nurani yang telah Tuhan titipkan kepada mereka. Hati nurani itu berbicara mengenai kebenaran dan nilai-nilai budi pekerti yang luhur. Namun demikian, mereka harus dipicu untuk menampilkan hati nurani itu ke permukaan perilakunya.
Salah satu pemicu itu adalah keteladanan para pemimpin, mulai dari pemimpin di lingkungan rumahnya hingga ke pemimpin bangsa ini. Intinya mereka akan memilih pemimpin yang baik menurut mereka, itu bisa disaksikan ketika mereka memilih di pemilihan umum untuk berbagai tingkatan. Namun, jika mereka kecewa dengan pemimpin pilihannya (mungkin karena perilaku atau kerjanya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan), maka hati nurani mereka kembali terkubur dalam-dalam.
Pemicu lainnya adalah bila ia atau mereka merasa terlindungi atau terayomi dari para pemimpin. Perlindungan itu bisa dalam arti keamanan, kesehatan, dan kebutuhan hidup lainnya, seperti pendidikan bagi anak-anaknya. Bila sampai makanan pokok saja tidak sanggup ia beli, maka hati nuraninya kembali disingkirkannya untuk memenuhi kebutuhan itu.

Padahal, negara ini dikenal sebagai negara yang amat kaya, baik kaya akan sumber daya alamnya, maupun sumber daya manusianya, tetapi bila salah urus, maka kekayaan itu tidak akan ada artinya. Kekayaan alamnya malah dikeruk oleh negara asing, kekayaan sumber daya manusianya malah menjadi kuli orang asing.
Padahal negara ini dikenal sebagai negara yang agamis, namun pada kenyataannya, agama hanya sekadar dijadikan simbol bahkan tameng, berapa banyak orang yang beragama malah tindakannya tidak mencerminkan ajaran agama itu sendiri. Tidak kurang media masa menyiarkan dakwah-dakwah agama di setiap saat, namun aplikasinya, masih jauh dari yang diharapkan.

Untuk itulah, untuk membenahi kehidupan berbangsa, khususnya dari sisi moral, akhlak, dan nilai-nilai luhur bangsa, kami mengadakan kegiatan ini. Ada yang harus diselamatkan dari keadaan bangsa seperti sekarang ini, yaitu para generasi muda, khususnya yang masih anak-anak. Pada umumya, anak-anak lebih  patuh dan lebih menurut kepada gurunya dari pada kepada orang-tuanya. Hal itu bisa dimengerti karena mereka sudah jarang melihat orang-tuanya yang keduanya sibuk bekerja di luar rumah, dan anak-anak selalu melihat guru dalam posisi (keadaan) mengajari, membimbing, memperhatikan, dan berperilaku baik, tidak seperti yang mereka rasakan dari kedua orang-tuanya yang terkadang dalam posisi lelah, tidak mau diganggu, tidak ingin ditemani, dan lebih-lebih dalam keadaan stres atau sedang dalam tekanan berat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar