Minggu, 21 Oktober 2012

Pendidikan Karakter Bangsa, Suatu Keharusan



PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA, SUATU KEHARUSAN
Drs. Susilo Syahlan, MSi

PENDAHULUAN
Pendidikan Karakter Bangsa (PKB) bukan mata pelajaran dan bukan hafalan. PKB adalah perilaku baik sehari-hari yang merupakan penjelmaan dari moralitas yang tinggi yang ada di dalam dirinya. Beberapa ahli sepakat bahwa seorang anak terlahir dalam kondisi (batin) yang putih bersih, adapun yang ‘memberi warna’ di hatinya adalah orang-orang terdekat dan lingkungannya. Pertanyaannya: “Jika pada saat ini, banyak orang yang bersikap anarkis, brutal, sadis, dan sifat-sifat buruk lainnya, apakah kesalahan itu ada di orang-orang terdekat dan lingkungannya ?.”
                Jawabannya bisa “Ya” dan bisa “Tidak,” namun bisa mengarah ke jawaban “Ya.” Jadi, bagi yang menjawab “Ya” maka terjadinya kasus korupsi, kasus pengeboman, kasus tawuran, kasus pembunuhan, dan hal-hal negatif lainnya yang marak saat ini adalah kesalahan dari orang-orang yang dulu mendidiknya, namun tidak mengarah ke satu orang, melainkan secara kolektif, termasuk masyarakat di sekelilingnya.

PKB, TUGAS SIAPA ?
Jika dirunut dari ‘silsilahnya’, maka pendidikan anak adalah tanggung-jawab orang-tuanya. Namun, sebagian pendidikan untuk anaknya itu dialihkan ke sekolah, sehingga tanggung-jawab itu sebagian dipikul oleh sekolah, dalam hal ini guru-guru mereka. Si anak, tidak hidup hanya di rumah dan di sekolah, ia juga bersosialisasi ke lingkungannya, maka sebagian tanggung-jawab itu juga dipikul oleh orang-orang yang berada di lingkungannya hingga ke level tertinggi, yaitu negara.
                Jadi pendek kata, setiap diri kita memiliki tanggung-jawab mendidik ‘orang lain’ sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing. Sikap masa bodoh dan egois (tidak mau tahu) menjadi ‘musuh’ utama PKB. Dapat kita saksikan perilaku berlalu-lintas yang semrawut seperti tanpa aturan, perilaku membuang sampah di sembarang tempat, perilaku tabrak lari, perilaku tidak mau menolong orang yang tertabrak kendaraan, dan lain sebagainya mencerminkan sikap masa bodoh dan tidak mau tahu.
KAPAN DAN BAGAIMANA CARANYA MENGINTERNALISASIKAN PKB ?
Kita mengaku sebagai bangsa yang agamis, yang religius, namun kenyataan di lapangan sangat bertolak-belakang. Agama mengajarkan kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita lebih mementingkan kepentingan orang lain (yang lebih banyak), namun kenyataannya, banyak orang yang lebih mementingkan diri sendiri, kelompok, atau golongannya. Jika pimpinan bangsa memilik sifat seperti ini, maka rakyat akan semakin menderita karena ‘kue pembangunan’ sudah habis dibagi ke kelompok mereka sendiri.
                PKB harus diajarkan, dicontohkan, dan diperhatikan sejak anak usia dini, karenanya muatan PKB sangat cocok dijadikan muatan utama pada pendidikan anak usia dini (PAUD), dan terus berlanjut ke jenjang pendidikan berikut-berikutnya (long life education) sesuai dengan perkembangan usianya. Internalisasi PKB ke dalam diri seseorang (khususnya anak/ peserta didik) dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1.       Pemberian contoh/ teladan dari orang-tua/ guru/ tokoh/ anggota masyarakat lain;
2.       Memasukkan unsur-unsur PKK ke dalam mata pelajaran;
3.       Memasukkan unsur-unsur PKB dalam penilaian mata pelajaran;
4.       Melalui forum diskusi, ceramah, seminar, dan sejenisnya;
5.       Dimasukkan ke dalam produk hukum/ perundang-undangan;
6.       Pemberian motivasi (seperti penghargaan) dari pihak-pihak yang berada di atasnya (seperti pimpinan perusahaan, menteri, presiden, dan sebagainya);
7.       Pemberian sanksi yang tegas dan konsisten bagi para pelanggar hukum (norma);
8.       Proses pembiasaan diri (lingkungan) sehingga tercipta budaya yang bermuatan PKB;
9.       Cara lain yang disesuaikan dengan kondisi sekitarnya.

APA ANCAMAN BANGSA JIKA TIDAK MENERAPKAN PKB ?
Banyak potensi bangsa yang merupakan ancaman terhadap bangsa, seperti ancaman disintegrasi NKRI. Ancaman ini sudah mulai menguak, seperti munculnya gerakan-gerakan separatis, khususnya di propinsi Papua. Gerakan ini muncul karena dianggap pemerintah pusat tidak adil dalam ‘pembagian kue pembangunan’ kepada daerah yang justru memiliki potensi menghasilkan pendapatan negara.
                Ancaman lain dalam bentuk ekonomi, di mana bangsa kita sudah mulai ‘terjajah’ dan memiliki utang yang semakin melambung. Hal ini terutama disebabkan banyak elemen bangsa kita yang bersifat konsumtif (termasuk gengsi buatan luar negeri dan meremehkan produk nasional.)  Bisa kita saksikan. produk-produk impor terus membanjiri pasar nasional, menggusur produk-produk lokal, mulai dari produk digital sampai buah-buahan.
                Ancaman selanjutnya adalah meningkatnya jumlah orang miskin. Dengan meningkatnya jumlah orang miskin, maka krisis sosial akan mudah terjadi yang bisa berakibat bencana sosial seperti kerusuhan masal, penjarahan masal, peningkatan kejahatan kriminal, menyebarnya penyakit, dan banyak lagi. Kemiskinan bisa terjadi karena kurangnya kepekaan sosial dari masyarakat kita terhadap lingkungannya, sampai-sampai ada tetangga yang meninggal karena kelaparan, tidak diketahui oleh lingkungannya yang relatif kaya.

BAGAIMANA MENERAPKAN PKB DALAM MATA PELAJARAN ?   
Sebelum ini, dikenal istilah softskill yaitu pelajaran mengenai berperilaku yang ditempel di mata pelajaran. Misalkan, di pelajaran itu dimasukkan unsur diskusi, maka si guru dapat bertindak sebagai moderator atau motivator untuk menghidupkan diskusi tersebut. Di luar itu, si guru apat menilai siswanya satu per satu melalui pengamatannya, misalkan (1) bagaimana sikap seseorang menerima kritik/ sanggahan, (2) bagaimana seseorang mampu memberi pendapat, (3) bagaimana sesorang dapat bekerja sama dengan teman-temannya, (3) bagaimana sikapnya ketika memberi presentasi, dan sebagainya. Jadi, nilai yang diberikan seorang guru itu bukan semata dari sisi kemampuan intelektualnya, namun juga memasukkan unsur softskill-nya.
                Tidak jauh berbeda dengan itu, PKB merupakan ‘perluasan’ dari softskill itu, dan mengarah pada karakter bangsa yang luhur. Dengan demikian, ada tuntutan penyampaian mata pelajaran  tidak hanya satu arah (guru ke murid) melainkan harus dua arah (ada juga dari murid ke guru). Dari sana seorang guru dapat mengamati kemampuan si anak, bukan hanya IQ melainkan unsur-unsur PKB-nya. Selain itu muatan PKB yang cocok dimasukkan ke dalam materi mata pelajaran harus dipilih dan diberi pembobotan (ranking), misalkan untuk pelajaran “Pendidikan Jasmani atau Olah Raga” maka unsur-unsur PKB yang penting adalah: 1). Kedisiplinan (dalam waktu dan penggunaan alat), 2). Jujur atau sportif, 3). Bekerja keras (untuk mencapai prestasi tertentu), dan 3). Menghargai prestasi.

PELUANG KEBERHASILAN PADA SEKOLAH YANG MENERAPKAN PKB
Banyak peluang keberhasilan pada sekolah yang menerapkan PKB meski belum seluruh unsur PKB masuk di dalamnya. Jadi, perlu dilakukan ‘introspeksi diri’ bagi sekolah tentang kekuatan-kelemahan-ancaman (tantangan)-dan peluang dari sekolahnya. Ada sekolah yang mayoritas siswanya anak dari pemulung kini menjadi sekolah unggulan karena unsur PKB seperti kerja keras, peduli lingkungan, peduli sosial, jujur, mandiri dan kreatif diterapkan di sekolahnya.
                Mereka (sekolah itu) melakukan wira usaha dengan kekuatannya yaitu setiap hari siswa wajib menabung sampah (yang bernilai ekonomi), kemudian gurunya mengelola dan menjual sampah itu (yang berbentuk an organik) kepada pengepul, atau bersama-sama mengolah sampah organik menjadi pupuk, dan hasilnya digunakan untuk membangun (memperindah) sekolah dan lingkungannya. Dengan penerapan itu, maka sekolah dan lingkungan mereka menjadi jauh lebih bersih dan lebih sehat dari sebelumnya, fasilitas sekolah menjadi lebih lengkap dan dapat dimanfaat-kan oleh orang-orang di sekitarnya.
                Memang pada dasarnya, sekolah yang menerapkan PKB akan menjadi sekolah favorit bagi orang tua untuk menitipkan anak-anaknya dididik di sana. Banyak orang tua berpendapat, segala jerih payahnya bekerja, semua dilakukan untuk masa depan anak-anaknya agar mereka bisa lebih baik dari dirinya. Salah satu hal utama yang diprioritaskan orang tua adalah pendidikan bagi anak-anaknya, mereka tentu akan mencari yang terbaik. Informasi suatu sekolah itu baik atau tidak, umumnya diperoleh dari mulut ke mulut.

KESIMPULAN
Tantangan anak-anak kita di masa depan akan berbeda dengan tantangan kita saat ini. Jika kita perhatikan, dan rasakan ‘hantaman-hantaman’ terhadap sisi moral kita saat ini saja sudah demikian hebatnya, seperti maraknya narkoba, maraknya prostitusi dan keasusilaan, maraknya kasus korupsi, maraknya kejahatan di dunia maya, dan banyak lagi yang lainnya, menjadi kita bertanya pada diri kita sendiri “mampukah anak-anak kita menjawab tantangan jamannya .?”
                Bagi orang-orang yang pesimistis, mereka mengajak anak-anak mereka bunuh diri saat ini. Namun, kita juga tidak dapat sekadar berteriak “optimis” tanpa berbuat apa-apa kepada anak-anak kita. Karenanya, mari kita bergandeng-tangan, sama sama berupaya dan bekerja sama untuk membentengi diri anak-anak kita agar mampu menahan ‘serangan’ kebejatan moral di masa depan. Khususnya, kerja sama dan intensitas komunikasi antara guru dan orang tua (sekolah-rumah) harus lebih ditingkatkan. Orang tua juga diminta untuk mengetahui bakat dan minat anak-anaknya sehingga bisa diarahkan ke hal-hal yang positif yang dapat menopang kehidupannya di masa depan.

BAHAN DISKUSI
-          Buat kelompok diskusi, misal setiap kelompok terdiri dari 10 orang (pengajar materi yang berbeda-beda): 1). Tentukan unsur-unsur apa saja dalam PKB yang perlu ditanamkan dalam materi mata pelajarannya, 2). Tentukan metode pengajarannya agar muatan PKB bisa dinilai, 3). Jenis kecerdasan apa yang akan diperoleh (sasaran) dari mata pelajaran tersebut, 4). Apa (kondisi seperti apa) yang harus dipenuhi agar siswa memperoleh prestasi yang baik untuk mata pelajaran ini (baik dari sisi intelektual maupun moralitasnya).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar